Postingan

SXSW Trailer: Hereditary (2018)

Gambar
"When Ellen, the matriarch of the Graham family, passes away, her daughter's family begins to unravel cryptic and increasingly terrifying secrets about their ancestry. The more they discover, the more they find themselves trying to outrun the sinister fate they seem to have inherited as it slowly destroys everything they know. Making his feature debut, writer-director Ari Aster unleashes a nightmare vision of a domestic breakdown that exhibits the craft and precision of a nascent auteur, transforming a familial tragedy into something ominous and deeply disquieting, and pushing the horror movie into chilling new terrain with its shattering portrait of heritage gone to hell." We're not exactly sure what to make of Hereditary , but if this trailer is any indication, it's going to be equal parts odd, creepy, and possibly even terrifying. It garnered rave reviews at Sundance , where critics called it "This year's scariest Horror movi...

REBEL WITHOUT A CAUSE (1955)

"Dasar anak zaman sekarang!" Selorohan tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinga dan biasanya merujuk pada tingkah laku muda-mudi yang dirasa kurang baik oleh generasi di atas mereka. Masa remaja memang dipenuhi keliaran, kenakalan, bahkan seringkali pemberontakan. Bagaimana sikap tersebut muncul para orang tua hanya bisa "garuk-garuk kepala". Terjadi "pemberontakan tanpa sebab" yang

CARTEL LAND (2015)

Tidak seharusnya kita berhenti menyimpan optimisme teruntuk dunia yang lebih baik. Dunia tanpa kriminalitas, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah. Namun seringkali harapan itu ditampar oleh kenyataan bahwa hidup ini berjalan membentuk lingkaran tanpa kenal putus. Satu keburukan ditumpas, tak butuh waktu lama untuk muncul benih keburukan berikutnya. It goes on and on and on. Terkesan

THE WOLFPACK (2015)

Anda pernah menonton "Dogtooth"? Film asal Yunani rilisan tahun 2009 itu bercerita tentang orang tua yang mengurung anak-anaknya di dalam rumah dengan alasan bahwa dunia luar terlalu berbahaya. Such a weird and disturbing movie. Wajar bila kita yakin keanehan tersebut tidak mungkin bertempat di kenyataan. Sampai saya menonton "The Wolfpack" karya Crystal Moselle. Dokumenter ini menjadi bukti

LONDON LOVE STORY (2016)

Sejak dulu sinema beserta aktor di dalamnya (baca: selebritas) selalu jadi tempat penonton "jelata" menggantungkan angan. Setelah menjalani penatnya keseharian dunia nyata, orang ingin dibawa melayang di tengah kegemerlapan para selebriti, entah di dalam maupun balik layar. Gemerlap itu berwujud paras rupawan, penampilan trendi, barang mewah, jalan-jalan ke luar negeri dan tentunya cinta

NORM OF THE NORTH (2016)

Hingga saat ini, saya masih bisa menikmati tontonan berpangsa pasar anak-anak. Sebagai contoh saya terhibur menonton "Curious George" berbekal segala kesederhanaan berbalut selipan pembelajarannya. Bahkan jika benar-benar senggang, saya beberapa kali menyaksikan "Teletubbies" di YouTube. Dua acara tersebut adalah contoh tontonan anak yang bagus, mampu menyeimbangkan hiburan dan pendidikan,

THE PROGRAM (2015)

Terungkapnya pemakaian doping oleh Lance Armstrong bukan hanya skandal terbesar dalam sejarah Tour de France, tapi juga olahraga. Dari pahlawan inspiratif Armstrong menjadi pesakitan tatkala ketujuh gelar juaranya (terbanyak sepanjang sejarah) dicabut dan mendapat sanksi larangan mengikuti perlombaan seumur hidup. Kita semua telah mengetahui garis besar kasus tersebut. Sedangkan untuk detail,

TALAK 3 (2016)

Jika bukan karena talenta-talenta di dalamnya, jujur "Talak 3" tampak kurang menjanjikan akibat trailer berisi lelucon-lelucon "receh" acak. Kesannya, film ini hanya akan tersusun atas humor demi humor tanpa mempedulikan bobot penceritaan. Tapi keberadaan duet Hanung Bramantyo dan Ismael Basbeth pada kursi penyutradaraan mencuatkan daya tarik. Saya menyukai Hanung saat memasuki "mode santai",

THE FINEST HOURS (2016)

"The Finest Hours" menuturkan kisah nyata tentang misi penyelamatan bersejarah para penjaga pantai terhadap awak kapal SS Pendleton pada 18 Februari 1952. Dianggap salah satu misi penyelamatan paling spektakuler karena hanya bermodalkan satu life boat kecil, empat orang kru penjaga pantai mampu menerobos badai raksasa dan menyelamatkan 33 awak SS Pendleton. Poin utama dari kisah tersebut

AIR TERJUN BUKIT PERAWAN (2016)

Memang benar niatan untuk menciptakan film bagus layak diapresiasi, termasuk ketika para pembuatnya mampu menggagas suatu konsep menarik. Tapi akan menjadi percuma apabila pada tataran eksekusi hasilnya buruk. Sekali lagi layak diapresiasi, tapi tidak lantas mengangkat derajat filmnya. Karena realisasi konsep sangat bergantung pada kemampuan penulis naskah dan sutradara. Penulis naskah harus

SURAT DARI PRAHA (2016): LANTUNAN CINTA MASA LALU

" Di sana tempat lahir beta, Dibuai dibesarkan bunda Tempat berlindung di hari tua, Sampai akhir menutup mata " "Surat dari Praha" sempat menyisipkan lagu "Tanah Air Beta" dalam salah satu adegannya, memunculkan ironi ketika para putera bangsa dengan rasa cinta begitu besar terhadap Indonesia justru tak mendapat perlindungan dari tanah air mereka dan harus menyingsing masa tua di negeri

AMERICAN GRAFFITI (1973)

Pasca Perang Dunia II, lahirlah satu generasi baru yang dikenal dengan sebutan "Baby Boom". Saat itu perang telah berakhir, angka kelahiran meningkat, begitu pula tingkat perekonomian. Masyarakat dunia (khususnya Amerika) tengah menatap harapan baru penuh optimisme tinggi teruntuk kehidupan lebih baik setelah cukup lama berkupang dalam tragisnya peperangan. Istilah "American Dream" bukan lagi

TRUMBO (2015)

Pada era 1940 hingga 1950-an, muncul gerakan "Hollywood blacklist" untuk menghalangi para pekerja industri seni di Hollywood yang ditengarai sebagai simpatisan atau anggota partai komunis mendapat pekerjaan. Semenjak praktek tersebut diterapkan secara sistematis pada 25 November 1947, ratusann orang kehilangan pekerjaan. Banyak dari mereka jatuh miskin, depresi, bahkan memutuskan bunuh diri

MACBETH (2015)

Our fate is a mystery lies beneath the future. Ketidaktahuan terhadap apa yang telah menanti kita di masa mendatang seringkali berujung rasa cemas. Kita cemas apabila kelak menemukan kesuraman di masa depan. Tapi apakah dengan mengetahui garis nasib itu ketenangan akan menghampiri? Apakah jika jawaban atas misteri masa depan dapat kita ketahui "sebelum waktunya" -dan ternyata berisi

THE DANISH GIRL (2015)

"The Danish Girl" menjadi contoh hambarnya suatu kisah karena sang pencerita gagal meng-capture esensi sesungguhnya dari kisah tersebut. Film adaptasi dari novel berjudul sama karya David Ebershoff ini mengisahkan kehidupan Einar Wegener (Eddie Redmayne), seorang pelukis asal Denmark yang lebih banyak dikenal sebagai salah satu orang pertama yang menjalani operasi pergantian kelamin. Pada

KETIKA MAS GAGAH PERGI (2016)

Pertama saya tegaskan dulu, bahwa saya bukan anti-film Islam. Lagipula dari nama pun sudah kelihatan saya pemeluk Islam, walau harus diakui tidak bisa disebut "alim" pula. Tapi alangkah bencinya saya kepada film-film yang menggurui. Definisi menggurui tidak sebatas dalam lingkup agama, tapi juga moral, budi pekerti, sopan santun dan lain sebagainya. Secara personal, saya berpendapat bahwa

MY 10 FAVORITE MOMENTS FROM "SUICIDE SQUAD" OFFICIAL TRAILER

Membahas trailer bukan sesuatu yang pernah saya lakukan, but I really love the new "Suicide Squad" trailer! Ketika Comic-con trailer-nya rilis bulan Juli lalu, segala keraguan-konsep, Jared Leto, etc.- mendadak hilang berganti optimisme. Diiringi lagu "I Started A Joke", saya pun bersorak, tanpa sadar menontonnya puluhan kali. Selang setengah tahun kemudian, disaat "Batman V Superman V Wonder

ROBO-DOG (2015)

Apa yang lebih mencemari bioskop daripada kehadiran film lokal berkualitas rendah dengan effort pembuatan asal-asalan? Tentu film straight-to-DVD dari Hollywood yang entah bagaimana bisa ditayangkan bioskop negeri ini. Bukan berarti semua film straight-to-DVD kualitasnya buruk. Ada yang bagus, cukup banyak pula "dumb entertainment" saya temukan dari sana. Tapi selebihnya ada alasan kuat

THE HIMALAYAS (2015)

Film produksi Korea Selatan harus diakui kemampuannya dalam membuat air mata penonton mengalir deras. Walaupun telah menyadari bahwa metode yang dipakai amatlah cheesy, dipaksakan, atau "mengkhianati" esensi filmnya kita tetap rela diajak mengharu biru. Sedari awal melihat trailer-nya, saya sudah tahu "The Himalayas" bertujuan memancing emosi serupa. Tapi siapa tidak tergoda untuk menonton

ROOM (2015)

Kita semua mendambakan kebebasan dalam hidup. Jika anda lontarkan pertanyaan "maukah kamu dipenjara?" saya yakin semua menjawab "tidak" dengan lantang. Tapi benarkah yang didambakan adalah kebebasan? Atau jangan-jangan kita masih buram akan definisi kata "bebas" itu sendiri? Andai diberi pilihan "kebebasan atau kenyamanan" masihkah seseorang bisa dengan lantang memilih opsi pertama? Lagipula

STEVE JOBS (2015)

Genre film biografi atau yang dikenal dengan sebutan "biopic" merupakan sarana bagi filmmaker untuk menceritakan kisah hidup seorang tokoh. Sedangkan bagi penonton, biopic tak ubahnya lahan ilmu untuk mempelajari sosok yang diangkat kehidupannya. Berpatokan dari kedua sisi di atas, tercipta pola monoton tentang bagaimana genre tersebut dihantarkan. Pola penuturan "masa muda - iconic moment (

STRAIGHT OUTTA COMPTON (2015)

Fuck the police coming straight from the underground A young nigga got it bad cause I'm brown And not the other color so police think they have the authority to kill a minority Sebaris lirik dari lagu "Fuck tha Police" di atas sudah sedikit menggambarkan alasan mengapa N.W.A (Niggaz Wit Attitudes) sempat dianggap sebagai "the most dangerous group" pada medio akhir 80-an hingga awal

45 YEARS (2015)

Belum tentu, bahkan jarang seseorang menikahi cinta/pacar pertamanya. Maka siapapun harus menerima fakta bahwa ada orang lain memadu kasih dengan pasangan hidupnya, jauh sebelum mereka bersama. Tapi biar bagaimanapun, kembalinya mantan kekasih tetap akan menimbulkan problema dalam rumah tangga. Bahkan walaupun ia tidak kembali secara langsung, seperti yang dialami sepasang suami-istri, Geoff (

AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 11-12)

Berikut adalah review untuk "American Horror Story - Hotel" episode 11 dan 12 (finale). Untuk review episode-episode sebelumnya dapat dilihat pada link di bawah: Episode 1-3 Episode 4-7 Episode 8-10 11 - BATTLE ROYALE Dua episode terakhir rutin jadi momentum "AHS" untuk secepatnya memberi resolusi terhadap segala arc. Hasilnya selalu sama; penuh kejutan dan kejadian penting namun

SENIOR (2016)

Harus diakui kejayaan film horror Thailand sudah berlalu. Tidak hanya popularitasnya semakin pudar, kualitas yang dihasilkan pun tak sebaik dulu. Kini perfilman Thailand lebih identik dengan komedi-romantis berpangsa pasar remaja atau drama-komedi heartwarming konsumsi semua umur. Maka disaat menebarkan kengerian tidak lagi menciptakan antrian penonton, masih adakah peluang bagi keberhasilan

KISAH CARLO - EPISODE 4 (KIVA)

Memasuki episode keempat, "Kisah Carlo" makin memperlihatkan dampak dari durasinya yang (kelewat) pendek dengan banyaknya jumlah karakter. Kali ini fokus diberikan pada Kiva (Mikhail Ghanialmer), anak kecil yang juga merupakan pasien Ruang Carlo. Diceritakan Kiva harus dibawa ke rumah sakit oleh kakek dan neneknya akibat menderita demam berdarah. Siapa Kiva? Bagaimana bocah sekecil dia bisa

MIDNIGHT SHOW (2016)

Perilisan "Midnight Show" merupakan bukti kuat bagaimana ganasnya gunting sensor LSF (Lembaga Sensor Film) memberi pengaruh siginifikan pada kualitas sebuah film. Sudah sering pemotongan adegan oleh LSF terasa mengganggu, tapi baru kali ini saya merasakan efek begitu besar, karena bukan sekedar koherensi suatu momen jadi terpotong, melainkan kekuatan film secara menyeluruh. Perlu diketahui

HANTU CANTIK KOK NGOMPOL? (2016)

(WARNING: Review ini banyak mengandung kata "ngompol" yang dapat menimbulkan nafsu bagi pembaca dengan fetish tertentu) Saya tahu yang ada di pikiran anda. Pasti anda mempertanyakan "dapat wahyu darimana" hingga saya memutuskan film ini, bukan? Tapi jangan salah. Saya selalu dididik untuk tidak menilai apapun dari tampak luar. "Don't judge a book by its cover", begitu kata orang. Atau jika

JOY (2015)

Memasuki medio 2010-an, David O. Russell seolah mendedikasikan karirnya untuk membuat film yang "Oscar darling". Cerita "based on" atau "inspired by" a true story (kecuali "Silver Linings Playbook") jadi suatu keharusan. Begitu pula dengan pemakaian Jennifer Lawrence, Bradley Cooper dan Robert De Niro yang keculai "The Fighter" rutin mengisi jajaran cast filmnya. Tapi itu bukan pilihan keliru,

BROOKLYN (2015)

Bicara soal winning formula, "Brooklyn" karya John Crowley sebagai hasil adaptasi novel berjudul sama karangan Colm Toibin punya tidak hanya satu, tapi dua unsur dalam ceritanya yang berpotensi memenangkan hati penonton. Rasa homesick dan dilema percintaan. Keduanya dapat menciptakan kegundahan familiar, karena hampir semua orang pernah mengalaminya. Dengan hal tersebut, filmnya telah memiliki

CAROL (2015)

Secara personal saya menyukai film dengan konten seksual tinggi khususnya bila konten tersebut dimaksimalkan untuk menonjolkan hasrat dan passionate love karakternya. Tapi bukan berarti semua film dengan seksualitas eksplisit mendominasi adalah bagus bagi saya. Eksploitasinya dalam kisah mengenai passion bukan pula sebuah harga mati. Wong Kar-wai pernah membuktikan itu lewat "In the Mood for

THE BIG SHORT (2015)

Krisis finansial global pada tahun 2007-2008 dianggap oleh banyak kalangan sebagai krisis finansial terburuk sejak "Great Depression" yang berlangsung pada 1930-an. Hanya di Amerika Serikat saja, jutaan orang kehilangan rumah serta pekerjaan mereka. Terdengar bagai mimpi buruk global, tapi coba jawab denga jujur, kecuali anda seorang pemain saham atau analis ekonomi, apakah anda ikut merasakan

SPOTLIGHT (2015)

Kata "revolusioner" dewasa ini semakin sering dianggap sebagai keharusan dalam membuat karya apapun, tidak terkecuali film. Bagi sebagian kalangan, kemasan klise sama artinya dengan pengulangan miskin kreativitas dan eksplorasi. Saya setuju kepada anggapan pentingnya mendobrak batasan demi menyuguhkan sajian baru untuk penonton. Namun sayangnya kegilaan meraih sebutan "revolusioner" tadi

TAUSIYAH CINTA (2016)

Pada suatu kesempatan, Joko Anwar pernah menuturkan sindirannya, bahwa membuat film di Indonesia itu mudah, karena mereka yang tak punya skill memadahi pun bisa melakukannya. Cukup pitching naskah atau premis ke investor yang mana banyak tidak tahu seperti apa naskah atau film bagus, dan voila! Anda mendapat lampu hijau membuat feature film untuk diputar di bioskop nasional. Saya bukan sedang

DADDY'S HOME (2015)

Naskah merupakan salah satu pondasi paling penting bagi sebuah film. Dengan naskah kuat, kesederhanaan seperti apapun dapat disulap menjadi tontonan mengesankan, apalagi bila terdapat eksplorasi mendalam akan suatu tema. Teruntuk komedi, naskah bagus wajib hukumnya jika membicarakan satrical comedy. Perlu kecerdikan supaya bukan hanya tawa yang muncul, namun juga sindiran tepat sasaran. Tapi

KISAH CARLO - EPISODE 3: NOVI

Novi (Anneqe Kartika S.) merupakan salah satu karakter dengan potensi penceritaan terbesar dalam serial ini. Sikap memberontak yang selalu ia munculkan pada sang ibu (Aifd Idawati) lebih dari cukup untuk memberi drama emosional tentang hubungan ibu dan anak. Episode ketiga garapan Paul Agusta ini menjadikan Novi sebagai sentral cerita, setidaknya begitu niatan awal yang diusung. Seperti biasa

KIKI'S DELIVERY SERVICE (1989)

Kepuasan terbesar menyaksikan animasi dari Ghibli khususnya buatan Hayao Miyazaki berasal dari kesederhanaan alur dalam dunia negeri dongeng yang penuh kehangatan. Dunia buatan Miyazaki banyak berisikan monster, hantu dan berbagai bentuk keajaiban lain. Namun dibalik kemasan fantasi itu terdapat balutan kisah sederhana yang acapkali tidak memiliki sosok villain. Konflik yang diusung tidak jauh

TOP 20 FILMS OF 2015

Total sekitar 270 film saya tonton tahun lalu. Jauh di bawah target gara-gara "hiatus" selama dua bulan, sehingga cukup banyak judul yang akhirnya terlewatkan. Beberapa judul yang diunggulkan dalam award season macam "Steve Jobs", "Room", "Spotlight", "Brooklyn", "Carol", "Anomalisa", "The Big Short", dan lain-lain pun masih belum sempat ditonton karena kemampuan listening Bahasa Inggirs saya

15 FILM INDONESIA TERBAIK 2015

Setelah lima tahun menulis di blog ini untuk pertama kalinya saya mempublikasikan daftar film terbaik Indonesia dalam setahun. Alasannya sederhana; tahun ini saya memutuskan untuk lebih banyak menonton film Indonesia di bioskop. Semoga di tahun 2016 nanti kualitas film negeri ini semakin meningkat dan jumlah yang saya tonton pun makin banyak. Tanpa perlu berlama-lama, berikut adalah 15 film

NGENEST (2015)

Semakin hari, isu SARA termasuk rasial terasa lebih sensitif dari sebelumnya. Bukan karena makin banyak orang intoleran (still a lot, though) tapi justru disebabkan bertambah mudahnya para "korban" tersinggung oleh hal tersebut. Memanggil seseorang sebagai "Cina" dapat membuat anda dituding rasis, sehingga masyarakat dihimbau menggunakan kata "Tionghoa". Bukan maksud membenarkan tindakan

LISTEN TO ME MARLON (2015)

Marlon Brando is one of the greatest actor of all time, that's for sure. Total dia mendapat delapan nominasi Oscar dengan dua diantaranya ("On the Waterfront" & "The Godfather") berhasil dimenangkan. Brando juga dianggap membawa revolusi bagi karakteristik akting dunia perfilman, dari pembawaan bigger than life era 30 hingga 40-an kearah pendekatan yang lebih realistis, lebih mendalam. Tapi

IP MAN 3 (2015)

Filosofi dari seni bela diri Wing Chun adalah kebaikan, kesabaran dan kerendahan hati. Menguasai Wing Chun diharapkan membuat seseorang dipenuhi cinta kasih, bukan doyan pamer atau mudah terpancing amarah. Dalam dua film "Ip Man" garapan Wilson Yip yang menampilkan Donnie Yen, sikap itu menonjol dalam laku sang titular character. Setelah dua installment mengesankan berisi action sequence 

THE REVENANT (2015)

Alam dapat menjadi kawan terbaik manusia. Kita bisa memperoleh berbagai sumber kehidupan atau sekedar menikmati keindahannya. Namun terkadang alam juga dapat menjadi lawan mematikan. Tidak harus disebabkan oleh suatu bencana, karena alam yang tenang pun mampu memberikan cobaan teramat berat. Dua sisi kontradiktif itu tergambar jelas dalam "The Revenant", film terbaru karya Alejandro G.

CREED (2015)

2015 menjadi tahun dimana Hollywood banyak menghidupkan kembali franchise lama, membawanya kearah baru sambil berusaha menyuntikkan penghormatan pada film pendahulunya. There's an amazing result ("Star Wars: The Force Awakens"), the good ("Jurassic World" & "Mad Max: Fury Road") and the terrible ("Terminator Genisys"). Mungkin alasan utama pihak studio membangkitkan lagi judul-judul lawas

THE HATEFUL EIGHT (2015)

"Just a bunch of nefarious guys in a room, all telling backstories that may or may not be true. Trap those guys together in a room with a blizzard outside, give them guns, and see what happens." Begitu Quentin Tarantino mendeskripsikan premis film kedelapan buatannya. Artinya, film ini akan bertempat dalam satu setting, dengan cerita berpusat pada pembicaraan diantara mereka. It sounds like a

NEGERI VAN ORANJE (2015)

Penyakit akut bagi film Indonesia yang menjalani proses syuting di luar negeri adalah lebih berfokus pada eksploitasi pemandangan tiap sudut lokasi. Tidak jarang filmnya melupakan tugas bernarasi dan seperti dokumentasi jalan-jalan belaka. Mungkin para pembuatnya beranggapan penonton Indonesia kampungan, mudah dibuat terperangah oleh suatu negeri asing. Saya berpikir sebaliknya. Para

DILWALE (2015)

Bukan, film ini bukanlah sekuel dari "Dilwale Dulhania Le Jayenge" meski berjudul serupa dan sama-sama dibintangi "pasangan emas" perfilman Bollywood, Shah Rukh Khan dan Kajol. "Dilwale" yang disutradarai Rohit Shetty ini menandapi kolaborasi kedelapan pasangan tersebut, setelah terakhir kali bersama lima tahun lalu dalam "My Name Is Khan". Meski kolaborasi terbaru ini tidak akan menjadi

LOVE (2015)

Saya menyukai film bertemakan seks atau penuh konten seksual eksplisit. Ada beberapa alasan. Pertama jelas, karena kita semua orang suka menyaksikan "pertunjukkan" seksualitas. Kedua, terdapat tendensi dalam diri saya untuk lebih mengapresiasi karya yang berani mendobrak batasan normatif. Alasan ketiga sekaligus paling utama karena seks merupakan (salah satu) kebutuhan dasar manusia. Dari situ

KISAH CARLO - EPISODE 2: MAYA DAN SURYA

Setelah Pilot hanya bertugas sebagai perkenalan singkat kepada tiap tokoh, episode kedua yang masih ditulis dan disutradarai Andri Cung akhirnya membawa kita mengulik sisi personal karakter secara lebih dalam. Seperti yang telah nampak pada judulnya, karakter Maya (Putri Ayudya) dan suaminya, Surya (Natalius Chendana) menjadi fokus utama. Setelah divonis menderita HIV, Maya tak bisa berhenti

AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 8 - 10)

Berikut adalah review untuk "American Horror Story: Hotel" episode 8-10. Untuk review episode-episode sebelumnya dapat dilihat disini: Episode 1-3 Episode 4-7 8 - THE TEN COMMANDMENTS KILLER Ini bukan saja episode pertama sejak break, tapi juga selepas salah satu episode terbaik musim ini. Jadi terdapat beban berat yang ditanggung olehnya. Untuk itulah, Ryan Murphy yang turun tangan