Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

AMOUR FOU (2014)

Aspek kultural pada film period drama membuat mannerism wajib diperhatikan. Karakternya penuh sopan santun, hasrat dipendam, tingkah laku dijaga sebaik mungkin. Mayoritas kisahnya bertemakan tentang cinta dengan tutur bahasa puitis. Realita pada masa itu menganggap bahwa sopan santun akan membuat seseorang lebih terhormat, lebih cerdas, dan menandakan strata sosial tinggi. Golongan aristokrat

FAR FROM THE MADDING CROWD (2015)

Saat ini feminisme tengah menjadi pergerakan yang begitu kuat dan masif. Entah laki-laki maupun perempuan sama-sama menyuarakan kejengahan mereka atas penindasan dan minimnya kesetaraan hak yang dimiliki kaum hawa. Diantara mereka ada yang bersikap sosialis, namun tidak jarang pula yang radikal. Para radikal banyak mengambil tindakan ekstrim dalam mengutarakan suara mereka. Bahkan terjadi

THE FINAL GIRLS (2015)

Setelah mimpi buruk buruk memuakkan bernama Paranormal Activity: The Ghost Dimension, saya merasa butuh penyegaran. Pilihan pun jatuh pada meta slasher comedy garapan sutradara Todd Strauss-Schulson ini. Sajian meta-horor sendiri sudah bukan hal baru saat ini. The Cabin in the Woods telah memberikan standar tinggi. Bahkan untuk slasher sendiri sudah ada Scream. Seperti karya Wes Craven

PARANORMAL ACTIVITY: THE GHOST DIMENSION (2015)

Beberapa hari lalu saat menonton 99 Homes, trailer Paranormal Activity: The Ghost Dimension menjadi salah satu yang diputar. Respon mayoritas penonon di dalam ruangan bioskop lebih dari sekedar positif. Mereka antusias, khususnya beberapa remaja perempuan (sekitar 7-8 orang) di depan saya. Ada yang sepanjang trailer menjerit tiap kali muncul scare jump, ada yang bertepuk tangan begitu

YAKUZA APOCALYPSE (2015)

Setiap sutradara hebat selalu punya ciri yang mencirikan film mereka. Namun bukan hal aneh jika pada satu titik karirnya, sang sutradara mencoba gaya lain, entah karena tuntutan ekonomi atau memang ingin mencoba hal baru. Bukan hal aneh pula saat sang sutradara di kemudian hari memilih kembali ke akarnya. Hal serupa tengah dialami Takashi Miike. As the Gods Will merupakan pertanda kesiapan

DRAGON BALL Z: RESURRECTION "F" (2015)

Freeza merupakan salah satu kalau bukan villain terbaik yang dimiliki Dragon Ball. Sebelum kemunculan tokoh-tokoh seperti Cell atau Majin Boo, dia mendapat gelar yang terkuat di alam semesta. Sosoknya yang memiliki empat wujud perubahan pun begitu ikonik. Belum lagi fakta bahwa Freeza banyak berperan dalam kejadian-kejadian penting di rentetan narasi Dragon Ball, contohnya: kehancuran Planet

99 HOMES (2015)

Masing-masing dari kita pasti memegang suatu bentuk moralitas. Dari situ seseorang dapat memilah antara benar dan salah. Kebenaran berada dalam lingkaran moral, sedang kesalahan berarti menyimpang dari moral. Justifikasi pun lebih mudah dilakukan karena adanya "kiblat" sebagai pegangan. Namun tatanan moralitas sebagai keabsolutan hanya dapat kita terapkan dengan mudah pada situasi penuh

AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 1 - 3)

Setelah kekecewaan terhadap Freak Show (which is the worst of AHS), saya tidak menggantungkan ekspektasi tinggi kepada musim kelima ini. Ryan Murphy boleh menjanjikan Hotel sebagai game changer, tapi kehilangan Jessica Lange yang merupakan magnet terbesar serial ini jelas patut dikhawatirkan. Sekarang setelah saya menyadari batasan cerita yang ditulus Ryan Murphy dan Brad Falchuk, hanya satu

SENDIRI DIANA SENDIRI / FOLLOWING DIANA (2015)

Melalui film pendeknya yang sempat menjalani pemutaran di Toronto International Film Festival 2015 ini, Kamila Andini membuktikan bahwa kisah sederhana yang bahkan di atas kertas terdengar cheesy dapat menjadi cerminan realita mengesankan bila diramu secara tepat. Diana (Raihaanun) sang titular character adalah ibu rumah tangga dengan satu orang putera yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

KISAH CINTA YANG ASU / LOVE STORY NOT (2015)

Kenapa kisah cinta ini asu? Kenapa pula disebut bukan kisah cinta? Mudah saja. Karena memang kisahnya asu, dan tiada cinta di dalamnya. Siapa yang akan menyebut hubungan antara Erik King (Yosep Anggi Noen) dengan kedua kekasihnya, Ning (Astri Kusuma Wardani) dan Martha (Mila Rosinta Totoatmojo). Erik King adalah anggota geng motor RX King. Begitu sayangnya Erik dengan motor itu, bahkan rela ia

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT (2015)

Seksualitas dan kekuasaan nampak seperti dua hal tak berkaitan, tapi sesungguhnya amat bersinggungan. Siapa lebih berkuasa, ia akan memegang kendali termasuk dalam seks. Sekilas begitulah tema dari film pendek terbaru karya Lucky Kuswandi yang pada bulan Mei lalu telah diputar pada program "Critic's Week" dalam ajang Cannes Film Festival. Begitu banyak adegan penuh libido mulai dari masturbasi

MY 20 FAVORITE HORROR FILMS FOR YOUR HALLOWEEN MOVIE NIGHT CONSIDERATION

Ini bukan daftar film horor terbaik sepanjang masa. Terlalu banyak klasik yang belum saya tonton macam Living Dead Franchise-nya George Romero, berbagai body horror David Cronenberg, karya-karya Dario Argento (DVD Suspiria dan Night of the Living Dead saya berhenti di tengah jalan dan belum sempat melanjutkan), dan masih banyak lagi. Kedua puluh judul di bawah adalah film horor favorit saya

BRIDGE OF SPIES (2015)

Tidak ada lagi yang harus dibuktikan seorang Steven Spielberg. Dia sudah mendefinisikan summer blockbuster lewat Jaws, menciptakan sosok ikonik bernama Indiana Jones, menyentuh imaji serta emosi semua orang lewat E.T., menghidupkan dinosaurus dalam Jurassic Park, hingga memenangkan dua piala Oscar untuk sutradara terbaik berkat Schindler's List dan Saving Private Ryan. Keberhasilan secara

BEAST OF NO NATION (2015)

"There's no such thing as an anti-war film" begitu kata sutradara asal Prancis, Francois Truffaut. Karena bagaimanapun cara pemaparan sang sutradara, kesan glorifikasi terhadap peperangan akan tetap terasa. Sebut saja Saving Private Ryan karya Steven Spielberg. Sekuat apapun horor yang ditampilkan oleh opening sequence ikoniknya, penonton bakal tetap mengingatnya sebagai pertempuran yang

THE OVERNIGHT (2015)

Banyak film termasuk komedi banyak mengusung premis "the craziest night ever". Sebagai contoh paling mudah tengok saja The Hangover. Pada aplikasi terhadap film komedi, premis tersebut selalu diberikan treatment serupa yang berujung pada formula familiar: karakter utama yang menghabiskan malam dengan begitu banyak alkohol dan drugs hingga membuat mereka terlibat dalam kejadian-kejadian gila.

GETT: THE TRIAL OF VIVIANE AMSALEM (2014)

Apakah cinta menjadi alasan bagi semua pasangan yang bertahan dengan pernikahan mereka selama bertahun-tahun? Saya banyak mendengar penuturan dari beberapa pihak yang telah menjalani rumah tangga selama puluhan tahun. Banyak dari mereka menjadikan anak sebagai alasan utama untuk terus bertahan. Banyak pula yang menyayangkan jika harus merusak keluarga yang telah dibina sekian lama. Tapi

I'LL SEE YOU IN MY DREAMS (2015)

The title of this movie sounds poetic, romantic and bittersweet. Bagai ada kerinduan untuk bertemu dengan orang terkasih yang tidak bisa lagi kita temui secara langsung, sehingga mimpi menjadi satu-satunya cara berjumpa. Premisnya pun menyiratkan kesan serupa. Berikut adalah sinopsis yang saya ambil dari Wikipedia: Carol (Blythe Danner) adalah janda yang menyadari bahwa kehidupan dapat dimulai

THE CASE OF HANA & ALICE (2015)

"The Case of Hana & Alice" is definitely a weird case. Bukan karena ceritanya, melainkan pilihan Shunji Iwai untuk mengemasnya sebagai medium animasi. Film ini sendiri merupakan prekuel dari Hana and Alice, sebuah live-action yang rilis tahun 2004. Kenapa Iwai merasa perlu mengemasnya sebagai animasi? Tentu bukan sekedar sebagai gaya-gayaan belaka. Dengan cara ini dia tidak kehilangan jiwa

MOMENTUM (2015)

Satu-satunya alasan menonton Momentum adalah Olga Kurylenko. Saya selalu merasa tatapan matanya yang tajam sempurnya menjadikannya sebagai action heroine. Kelebihan sang aktris itu juga yang menghiasi trailer film ini. Saya tidak peduli sutradara Stephen Campanelli pernah menjadi kameraman seorang Clint Eastwood. Saya tidak peduli apa yang ditawarkan naskah garapan Adam Marcus dan Debra

CRIMSON PEAK (2015)

Beware..."Crimson Peak" isn't your typical horror movie. It's not even a horror movie. Well, kind of. Mungkin cara terbaik mendeskripsikan film ini adalah sebagai "gothic romance filled with ghost as a metaphor of the past". Bahkan sedari awal lewat narasi Edith Cushing (Mia Wasikowska), filmnya sudah berusaha meyakinkan penonton bahwa tujuan utama kehadiran hantu disini bukan sebagai alat

CREEP (2014)

Meski layak disebut salah satu scriptwriter terbaik pada generasinya, tetap sulit dipercaya bahwa Mark Duplass menulis naskah untuk film horor. Dengan judul-judul macam Cyrus dan Jeff, Who Lives at Home, Mark Duplass dikenal sebagai salah satu pentolan mumblecore yang lebih mengedepankan eksplorasi karakter dalam realisme sederhana namun renyah. Creep sebetulnya bukan hanya ditulis oleh

GOOSEBUMPS (2015)

Perkenalan saya dengan Goosebumps karya R.L. Stine adalah semasa duduk di bangku sekolah dasar. Judul pertama yang saya baca adalah "Kamar Hantu" atau "Don't Go to Sleep!" dalam versi Bahasa Inggris. Saya teringat sampulnya yang didominasi warna ungu, dengan gambar sebuah gigantic monster claw yang siap menerkam seorang bocah di kamarnya. Ketika itu saya membacanya di sore hari dalam suasana

ASSASSINATION CLASSROOM (2015)

Sesosok alien berwarna kuning dengan bentuk seperti gurita (kepala besar dengan banyak tentakel) telah menghancurkan 70% bagian Bulan. Sasaran berikutnya adalah Bumi, dimana pasukan militer terkuat seluruh dunia sama sekali tidak berkutik di hadapannya. Alien tersebut berniat menghancurkan Bumi, tapi sebelum itu ia meminta dijadikan guru untuk kelas 3E di SMP Kunugigaoka. Sebagai gantinya,

KURT COBAIN: MONTAGE OF HECK (2015)

"Siapa Kurt Cobain?" Mayoritas orang akan mengenal namanya sebagai vokalis Nirvana. Tapi siapa sesungguhnya Cobain? Selain sosoknya yang identik dengan sisi depresif akibat ketenaran yang tak diharapkan, kisah cinta liar bersama Courtney Love, hingga bunuh diri tragis saat usianya baru menginjak 27 tahun, apa yang kita masyarakat umum tahu tentangnya? Begitu menonton Montage of Heck yang

ME AND EARL AND THE DYING GIRL (2015)

Me and Earl and the Dying Girl punya segala pesona quirky yang bakal membuat Wes Anderson dan Noah Baumbach jatuh cinta. Well, pada faktanya film yang diadaptasi dari novel berjudul sama tulisan Jesse Andrews (juga menulis naskah filmnya) ini memang diproduksi oleh "Indian Paintbrush", sebuah production company yang telah banyak membuat film-film karya Wes Anderson. Karakter utamanya adalah

THE WALK (2015)

The Walk karya Robert Zemeckis ini bakal memberikan teror bagi para penderita acrophobia (takut ketinggian). Beberapa kenalan saya mengaku sudah berkeringat dingin melihat trailer-nya. Saat film dimulai pun, seorang pria di samping saya tidak henti-hentinya bersumpah serapah melampiaskan kecemasannya sambil menggerakkan kakinya dengan sangat kencang. Begitu film selesai, dia meminta maaf jika

MAY WHO? (2015)

Film terbaru garapan sutradara Chayanop Boonprakob (SuckSeed) ini memberi contoh trailer yang bagus dan buruk disaat bersamaan. Bagusnya, dengan nuansa corny penuh kebodohan yang sekilas murahan saya terbujuk untuk menonton filmnya. Buruknya, trailer May Who? terlalu banyak mengungkap lelucon serta plot di dalamnya. Tapi yang menjadikan film ini spesial adalah meski mempertontonkan terlalu

NATIONAL GALLERY (2014)

Pada salah satu adegan film ini, nampak dua staff "National Gallery" tengah membicarakan (atau berdebat) mengenai hal apa yang dirasa kurang dalam museum itu. Salah satu dari mereka menyatakan bahwa museum kurang memperhatikan apa yang pengunjung/masyarakat inginkan, atau bisa dibilang "kurang merakyat". Banyak orang tidak memahami apa yang ditawarkan oleh museum yang sudah berdiri sejak tahun

BABY (2015)

Badan kekar, rambut pendek, dan kumis tebal. Nampaknya ketiga hal itu jadi hal wajib untuk dimiliki para action hero Bollywood. Lihat saja tampilan Ajay Devgan, Salman Khan dan Akshay Kumar. Karakter mereka pun tidak jauh dari one-man army yang sanggup menghabisi puluhan musuh sendirian. Hukum fisika tidak lagi berlaku di hadapan para jagoan itu. Tapi Baby garapan sutradara Neeraj Pandey bukan

SICARIO (2015)

Premis Sicario berkisah tentang usaha CIA menelusuri kartel narkoba di Meksiko. Terdengar seperti plot sebuah aksi kelas-b. Tapi mengingat keberadaan Denis Villeneuve sebagai sutradara, bisa dipastikan film ini tidak akan berakhir sebagai tontonan ala-kadarnya. Villeneuve memang tengah berada di puncak kejayaan. Tiga film terakhirnya (Incendies, Prisoners, Enemy) adalah critical acclaim, dan

Z FOR ZACHARIAH (2015)

Sekilas Z for Zachariah bagaikan hanya suatu romansa cinta segitiga di tengah dunia post-apocalyptic. Apakah film garapan sutradara Craig Zobel ini telah menyia-nyiakan setting tersebut? Justru sebaliknya, karena begitu ditelaah lebih dalam, kisahnya memaparkan secara gamblang wajah asli dari manusia. Merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Robert C. O'Brien, film ini menampilkan

UNFRIENDED (2014)

It's always amazed me how one simple but creative change could turn a worn-out premise into one great movie. Unfriended merupakan salah satu contoh terbaru dari pernyataan tersebut. Menilik dasar cerita dari naskah tulisan Nelson Greaves, film ini bisa saja berakhir sebagai "another teen slasher movie". Sekelompok remaja yang diteror oleh "hantu" dari dosa masa lalu mereka jelas mengingatkan

3 (2015)

Saya menunggu Anggy Umbara membuat film aksi. Dua installment Comic 8 sudah membuktikan bahwa Anggy dengan metode style over substance-nya berpotensi jauh lebih bersinar jika menggarap action tanpa perlu dibumbui komedi. Karena dari situ dia bisa sepuasnya membuat karakter badass yang keren tanpa perlu menjadikan para komedian bertingkah "sok keren". Karena dari situ dia bisa sepuasnya

THE MARTIAN (2015)

Do we really need another space-exploration movie after "Gravity" and "Interstellar"? Kedua film yang masing-masing rilis pada 2013 dan 2014 itu telah memberikan standar tinggi baik dari aspek teknis maupun narasi. Jadi apakah tahun 2015 membutuhkan film dengan tema serupa? Mungkin tidak. Jangka waktu relatif berdekatan tentu membuat perbandingan antara The Martian dengan kedua film tersebut