Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

IN AMERICA (2002)

Di tangan sutradara lain, In America bisa menjadi tearjerker yang mengeksploitasi kesulitan hidup serta duka yang merundung karakternya. Tapi di bawah Jim Sheridan yang mengutamakan kesederhanaan dibalik sentuhan personal, filmnya mampu terasa sentimentil tanpa harus berusaha terlalu keras untuk jadi mengharukan. Padahal semua modal untuk melakukan itu sudah ada. Ceritanya menyoroti kehidupan

BAJRANGI BHAIJAAN (2015)

Masa dimana perfilman Bollywood identik dengan adegan musikal yang meriah sekaligus random memang masih jauh dari kata usai. Tapi kini ada satu "keahlian" terbaru mereka yang terbukti banyak menghadirkan box office hit dalam beberapa tahun terakhir. Sajian drama-komedi penuh kisah inspiratif cenderung tearjerker yang tidak pernah peduli meski dihadirkan secara berlebihan. Tapi masyarakat umum

SPL II: A TIME FOR CONSEQUENCES (2015)

Pada era saat ini, tidak bisa dipungkiri The Raid (dan sekuelnya) mulai menjadi tolak ukur kualitas film aksi. Koreografi baku hantam memukau dan kadar kekerasan tinggi ditangkap oleh kamera secara mendetail tanpa berusaha melakukan cut cepat sebagai trik manipulasi. Film aksi old school yang melambungkan nama-nama seperti Bruce Willis, Sylvester Stallone hingga Jason Statham perlahan mulai

THE INTERN (2015)

Saat seseorang memasuki usia senja dan akhirnya penisun dari pekerjaan yang telah digeluti selama puluhan tahun, maka terjadilah post power syndrome. Ketidak siapan mental seseorang menghadapi fakta bahwa "kekuasaan" dan kesibukan yang telah terbiasa ia miliki mendadak hilang tidak jarang membawa mereka kepada perasaan hampa bahkan depresi. Inilah bagian dimana The Intern terasa realistis.

BLACK MASS (2015)

Kapan terakhir kali Johnny Depp menyajikan penampilan yang mengesankan? Bagi saya itu terjadi saat ia memerankan sosok magia John Dillinger dalam Public Enemies enam tahun lalu. Mengingat status Depp sebagai salah satu bintang terbesar Hollywood saat ini, enam tahun adalah waktu yang lama. Apalagi semenjak itu sudah 10 film ia bintangi (tidak termasuk voice acting dan cameo). Dalam Black Mass,

MONSTER HUNT (2015)

Here's the highest-grossing film in China of all time. Dengan mengumpulkan total pendapatan $384.7 juta, Monster Hunt berhasil menumbangkan raksasa-raksasa blockbuster dari Hollywood macam Furious 7, Avengers: Age of Ultron hingga Jurassic World. Film garapan sutradara Raman Hui ini memang punya formula sempurna untuk melakukan itu. Cerita ringan penuh adegan aksi dan komedi yang kental,

RED ARMY (2014)

Olahraga dengan semangat fair play yang diusung tidak jarang menjadi media propaganda kuat serta sasaran empuk politisasi. Contoh paling dekat silahkan tengok nasib sepak bola Indonesia beberapa tahun terakhir. Tapi apa yang dipaparkan oleh Gabe Polsky dalam dokumenternya ini ada pada tingkatan berbeda dari sekedar urusan "cari muka". Uni Soviet medio 1970 hingga akhir 1980 dikenal lewat

FANTASTIC FOUR (2015)

Selain untuk memenuhi syarat supaya hak tidak kembali ke tangan Marvel, versi teranyar Fantastic Four ini direncanakan bakal mengawali franchise baru yang kelak (harapannya) bakal di-crossover dengan X-Men. Tapi tidak usah membahas dulu seperti apa hasil akhirnya. Karena mungkin hingga beberapa dekade ke depan film ini akan selalu diingat lewat kisah perseteruan dibalik layar antara sutradara

MAZE RUNNER: THE SCORCH TRIALS (2015)

Apa yang membuat The Maze Runner mampu bertahan di tengah film adaptasi novel young adult yang mulai berguguran? Meski kekuatan cerita dan karakternya belum mencapai level yang sama dengan The Hunger Game, franchise ini punya keunggulan lain dalam bentuk setting dunianya. Setidaknya hal itulah yang nampak pada film pertama. Bermodalkan labirin berliku penuh monster, sutradara Wes Ball sukses

MAGIC MIKE XXL (2015)

Pada Magic Mike tiga tahun lalu karakter Mike Lane (Channing Tatum) diceritakan memiliki impian besar untuk menjalani bisnisnya sendiri. Tapi karena faktor ekonomi yang tidak memadahi ia pun terpaksa berprofesi sebagai penari striptease. Pada akhirnya ia memilih keluar dan memulai kehidupan baru bersama wanita yang ia cintai. Lompat ke tahun 2015, sekuelnya yang berjudul Magic Mike XXL dirilis

ASSASSINATION (2015)

Film seperti apa yang sama mengesalkannya dengan film jelek? Jawabannya adalah film dengan potensi menjadi luar biasa, bahkan salah satu yang terbaik, namun gagal memenuhi potensi tersebut. Film espionage garapan Choi Dong-hoon ini sama sekali tidak jelek, bahkan amat menghibur. Tapi Assassination punya kemampuan untuk tidak hanya berakhir sebagai hiburan sambil lalu. Film yang sampai sekarang

COP CAR (2015)

Tempo sedang cenderung lambat, pemilihan lokasi macam jalan raya sepi nan gersang, rumah kecil, interior mobil ataupun bar sempit, karakter berwatak "keras" yang menyimpan misteri, hingga klimaks berisikan baku tembak berskala kecil yang intens. Hal-hal di atas adalah ekspektasi saya terhadap film garapan Jon Watts ini. Kenapa? Karena semua itu seolah merupakan hal yang wajib dipunyai thriller

BIDADARI TERAKHIR (2015)

Pada awalnya saya pesimis Bidadari Terakhir akan mampu mencapai potensi maksimalnya. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Agnes Davonar ini memiliki premis sebagai berikut: seorang remaja SMA berprestasi jatuh cinta pada seorang pekerja seks komersial yang beberapa tahun lebih tua darinya. Keraguan hadir saat saya mempertanyakan "seberapa jauh film ini berani mengeksplotasi tema

WHITE GOD (2014)

Tidak saya sangka dalam film kecil yang merupakan perwakilan Hungaria untuk Oscar 2015 ini terdapat ambisi yang teramat besar. Sekilas White God nampak seperti drama realis sederhana tentang hubungan seorang gadis dengan anjingnya. Tapi ternyata sutradara sekaligus penulis naskah Kornel Mundruczo punya lebih banyak hal tersimpan untuk penonton. Bermula sebagai melodrama, perlahan filmnya mulai

PAPER TOWNS (2015)

Novelis John Green bisa menyulap sebuah premis cheesy menjadi sebuah rangkaian cerita yang lebih berisi dan dewasa. Setidaknya hal itu nampak dari film-film yang mengadaptasi novel ciptaannya. Tahun 2014 lalu, The Fault in Our Stars menyuguhkan percintaan remaja dengan embel-embel penyakit kanker tanpa perlu terasa sok manis apalagi cengeng. Paper Towns pun berakhir serupa. Dasar ceritanya

ATTACK ON TITAN: PART 1 (2015)

Apa tujuan melakukan adaptasi dari manga yang bahkan belum menyelesaikan penceritaannya? Bukankah dengan begitu sang pembuat film harus menciptakan ending baru yang kemungkinan besar bakal berbeda dari sumbernya? Tidak akan jadi masalah jika ending itu memiliki esensi serupa, tapi bagaimana jika jauh berbeda? Dibuatnya live action Attack on Titan tentu didasari oleh popularitas manga dan

MISSION: IMPOSSIBLE - ROGUE NATION (2015)

Bahkan sedari adegan pembuka, Rogue Nation sudah menawarkan segala hal yang diharapkan penonton hadir dalam Mission: Impossible. Usaha menyusup secara diam-diam memanfaatkan alat canggih ala serial televisinya dulu yang oleh lima versi layar lebar ditambah suntikkan adegan aksi, hingga stunt gila dari Tom Cruise yang walau sudah berusia 53 tahun tidak sedikitpun menunjukkan tanda ingin "

BATTLE OF SURABAYA (2015)

"Sebuah angin segar", "sajian yang berbeda" dan masih banyak lagi sebutan-sebutan lain mengiringi Battle of Surabaya karya sutradara Aryanto Yuniawan bahkan jauh hari sebelum filmnya rilis. Sebagai tontonan animasi yang notabene masih amat jarang tampil di perfilman tanah air, buzz untuk film ini sudah begitu kencang bahkan sejak setahun lalu. Ditambah partisipasinya di berbagai festival

INSIDE OUT (2015)

Seberapa jauh suatu film mampu bertutur? Sebagai media eksplorasi imajinasi, kita sudah melihat kemampuan tanpa batas dari film. Luar angkasa luas hingga dunia abstrak yang tidak terbayangkan sebelumnya mampu dijelajahi. Namun kesulitan terbesar justru terletak pada penuturan aspek hidup yang jauh lebih sederhana. Menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tak terpikirkan karena kita anggap