Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

15 FILM INDONESIA TERBAIK 2015

Setelah lima tahun menulis di blog ini untuk pertama kalinya saya mempublikasikan daftar film terbaik Indonesia dalam setahun. Alasannya sederhana; tahun ini saya memutuskan untuk lebih banyak menonton film Indonesia di bioskop. Semoga di tahun 2016 nanti kualitas film negeri ini semakin meningkat dan jumlah yang saya tonton pun makin banyak. Tanpa perlu berlama-lama, berikut adalah 15 film

NGENEST (2015)

Semakin hari, isu SARA termasuk rasial terasa lebih sensitif dari sebelumnya. Bukan karena makin banyak orang intoleran (still a lot, though) tapi justru disebabkan bertambah mudahnya para "korban" tersinggung oleh hal tersebut. Memanggil seseorang sebagai "Cina" dapat membuat anda dituding rasis, sehingga masyarakat dihimbau menggunakan kata "Tionghoa". Bukan maksud membenarkan tindakan

LISTEN TO ME MARLON (2015)

Marlon Brando is one of the greatest actor of all time, that's for sure. Total dia mendapat delapan nominasi Oscar dengan dua diantaranya ("On the Waterfront" & "The Godfather") berhasil dimenangkan. Brando juga dianggap membawa revolusi bagi karakteristik akting dunia perfilman, dari pembawaan bigger than life era 30 hingga 40-an kearah pendekatan yang lebih realistis, lebih mendalam. Tapi

IP MAN 3 (2015)

Filosofi dari seni bela diri Wing Chun adalah kebaikan, kesabaran dan kerendahan hati. Menguasai Wing Chun diharapkan membuat seseorang dipenuhi cinta kasih, bukan doyan pamer atau mudah terpancing amarah. Dalam dua film "Ip Man" garapan Wilson Yip yang menampilkan Donnie Yen, sikap itu menonjol dalam laku sang titular character. Setelah dua installment mengesankan berisi action sequence 

THE REVENANT (2015)

Alam dapat menjadi kawan terbaik manusia. Kita bisa memperoleh berbagai sumber kehidupan atau sekedar menikmati keindahannya. Namun terkadang alam juga dapat menjadi lawan mematikan. Tidak harus disebabkan oleh suatu bencana, karena alam yang tenang pun mampu memberikan cobaan teramat berat. Dua sisi kontradiktif itu tergambar jelas dalam "The Revenant", film terbaru karya Alejandro G.

CREED (2015)

2015 menjadi tahun dimana Hollywood banyak menghidupkan kembali franchise lama, membawanya kearah baru sambil berusaha menyuntikkan penghormatan pada film pendahulunya. There's an amazing result ("Star Wars: The Force Awakens"), the good ("Jurassic World" & "Mad Max: Fury Road") and the terrible ("Terminator Genisys"). Mungkin alasan utama pihak studio membangkitkan lagi judul-judul lawas

THE HATEFUL EIGHT (2015)

"Just a bunch of nefarious guys in a room, all telling backstories that may or may not be true. Trap those guys together in a room with a blizzard outside, give them guns, and see what happens." Begitu Quentin Tarantino mendeskripsikan premis film kedelapan buatannya. Artinya, film ini akan bertempat dalam satu setting, dengan cerita berpusat pada pembicaraan diantara mereka. It sounds like a

NEGERI VAN ORANJE (2015)

Penyakit akut bagi film Indonesia yang menjalani proses syuting di luar negeri adalah lebih berfokus pada eksploitasi pemandangan tiap sudut lokasi. Tidak jarang filmnya melupakan tugas bernarasi dan seperti dokumentasi jalan-jalan belaka. Mungkin para pembuatnya beranggapan penonton Indonesia kampungan, mudah dibuat terperangah oleh suatu negeri asing. Saya berpikir sebaliknya. Para

DILWALE (2015)

Bukan, film ini bukanlah sekuel dari "Dilwale Dulhania Le Jayenge" meski berjudul serupa dan sama-sama dibintangi "pasangan emas" perfilman Bollywood, Shah Rukh Khan dan Kajol. "Dilwale" yang disutradarai Rohit Shetty ini menandapi kolaborasi kedelapan pasangan tersebut, setelah terakhir kali bersama lima tahun lalu dalam "My Name Is Khan". Meski kolaborasi terbaru ini tidak akan menjadi

LOVE (2015)

Saya menyukai film bertemakan seks atau penuh konten seksual eksplisit. Ada beberapa alasan. Pertama jelas, karena kita semua orang suka menyaksikan "pertunjukkan" seksualitas. Kedua, terdapat tendensi dalam diri saya untuk lebih mengapresiasi karya yang berani mendobrak batasan normatif. Alasan ketiga sekaligus paling utama karena seks merupakan (salah satu) kebutuhan dasar manusia. Dari situ

KISAH CARLO - EPISODE 2: MAYA DAN SURYA

Setelah Pilot hanya bertugas sebagai perkenalan singkat kepada tiap tokoh, episode kedua yang masih ditulis dan disutradarai Andri Cung akhirnya membawa kita mengulik sisi personal karakter secara lebih dalam. Seperti yang telah nampak pada judulnya, karakter Maya (Putri Ayudya) dan suaminya, Surya (Natalius Chendana) menjadi fokus utama. Setelah divonis menderita HIV, Maya tak bisa berhenti

AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 8 - 10)

Berikut adalah review untuk "American Horror Story: Hotel" episode 8-10. Untuk review episode-episode sebelumnya dapat dilihat disini: Episode 1-3 Episode 4-7 8 - THE TEN COMMANDMENTS KILLER Ini bukan saja episode pertama sejak break, tapi juga selepas salah satu episode terbaik musim ini. Jadi terdapat beban berat yang ditanggung olehnya. Untuk itulah, Ryan Murphy yang turun tangan

STAR WARS: THE FORCE AWAKENS (2015)

Here it comes, the most anticipated movie of the year. Bagaimana filmnya sudah memecahkan beberapa rekor Box Office bahkan sebelum tanggal perilisan merupakan bukti nyata. "Star Wars" memang bukan sekedar franchise. Tiap perilisan installment baru adalah event. A massive one. Tapi beberapa orang mungkin bertanya-tanya, kenapa "Star Wars" bisa begitu digandrungi. "It's just a blockbuster movie

BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (2015)

Jihad untuk membela agama adalah niatan yang mulia. Tapi jika niatan tersebut direalisasikan melalui aksi terorisme maka pudarlah segala kebaikannya. Artinya, meski (dalam Islam) niat baik sudah diganjar pahala, apabila tindakan selaku perwujudannya keliru, tetap tidak bisa dibenarkan. Sama halnya dengan film. Semulia apapun niat di balik pembuatannya, sebaik apapun pesan yang diutarakan,

SINGLE (2015)

Raditya Dika berperan sebagai pria quirky yang bermasalah dengan kehidupan percintaannya....lagi. Dika memang identik dengan karakter seperti itu, bahkan materi stand up comedy-nya pun tak jauh-jauh dari "kegalauan romantika remaja." Sebenarnya bukan pilihan buruk. Meski kemunculannya dalam medium apapun menjadi predictable, apa yang Dika lakukan adalah suatu bentuk branding, and a successful

WOMAN IN GOLD (2015)

Sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah, upaya mendramatisir Holocaust ke layar lebar memang tak akan pernah berujung. Ada begitu banyak cerita tersimpan dengan potensi besar menguras air mata penonton. Entah berfokus pada usaha kaum Yahudi bertahan hidup, atau orang Jerman yang "mengkhianati" tindakan Nazi, hampir semuanya memiliki poin akhir berupa momen tearjerker 

GOING CLEAR: SCIENTOLOGY AND THE PRISON OF BELIEF (2015)

"When the banks became cathedrals, and a fox became God" Sepenggal kalimat di atas berasal dari lirik lagu "Violet Hill" milik Coldplay. Saya menyukai bagian lirik tersebut berkat kesempurnaannya menggambarkan kondisi religiusitas manusia dewasa ini. Agama banyak dimanfaatkan sebagai alat pengeruk uang, dan orang-orang sinting mengaku sebagai Tuhan (atau Rasul-Nya) dalam rangka meraih

THEEB (2014)

Seiring berjalannya usia, seorang bocah kelak akan tumbuh menjadi pria dewasa. Tentunya tumbuh kembang itu tidaklah instant, butuh proses berkepanjangan untuk menempa mental menuju pendewasaan. Tapi apakah hal serupa dapat diterapkan pada mereka yang tumbuh di tengah zona perang penuh gesekan? Disaat kematian, kehilangan orang tercinta, siksaan fisik sekaligus psikis, konflik moral ambigu,

KRAMPUS (2015)

"Krampus" memang sebuah film natal sekaligus horor, tapi dalam naskah karya Michael Dougherty (juga menjadi sutradara), terdapat pula sentuhan drama berisikan nilai-nilai yang terasa dekat untuk semua kalangan penonton, apapun agama yang mereka anut dan hari besar yang dirayakan. Natal yang seharusnya identik dengan rasa ingin berbagi serta kebersamaan keluarga sudah semakin jauh akibat

BONE TOMAHAWK (2015)

Western sebenarnya tak bisa dilepaskan dari horor, baik "horror of nature" maupun "horror of human". Terdapat alasan kuat dibalik penggunaan kata "wild" di depan "west". Entah padang gersang yang terbentang luas, hewan-hewan mematikan, hingga para bandit bersenjata yang tidak segan menghabisi nyawa manusia adalah beberapa contoh sumber maut yang siap menerkam kapan saja. Maka disaat S. Craig

DOPE (2015)

Film ini dibuka dengan tiga definisi dari kata "dope"; sebuah narkoba, orang bodoh, dan istilah slang yang bersinonim dengan "keren". Rick Famuyiwa yang berposisi sebagai sutradara sekaligus penulis naskah memang meniati filmnya dipenuhi ketiga hal tersebut. Erat kaitannya dengan narkoba, disaat tiga remaja geek yang kerap di-bully, Malcolm (Shameik Moore), Jib (Tony Revolori) dan Diggy (

INFINITELY POLAR BEAR (2014)

Judulnya sudah memberi petunjuk akan dibawa kearah mana film ini. "Infinitely Polar Bear" adalah karya dari sutradara Maya Forbes yang dibuat berdasarkan kehidupan masa kecilnya sewaktu tinggal bersama sang ayah yang mengidap bipolar disorder saat ibunya pergi ke New York untuk mendapatkan MBA. Bipolar atau manik depresi merupakan kondisi dimana pengidapnya dapat mengalami perubahan mood yang

THE PEANUTS MOVIE (2015)

Judul "The Peanuts Movie" mungkin tidak familiar di telinga banyak orang, tapi lain halnya dengan Snoopy. Bahkan saat mengantri, penjaga tiket kebingungan dan baru paham setelah saya berkata "film Snoopy mas". Tidak heran ketika di beberapa negara termasuk Indonesia, film ini dirilis dengan judul "Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie". Sejarah karakter Snoopy dan Charlie Brown memang

WE ARE STILL HERE (2015)

Memang benar jika industri horor mainstream di Hollywood sering terjebak dalam klise membosankan. Banyak yang berlomba membuat The next "Insidious" lewat sajian haunted house mengandalkan scare jump berjubel lengkap dengan iringan musik memekakkan telinga. Maka tidak mengherankan saat sineas horor independent atau dari luar Hollywood berusaha memberikan tontonan berbeda meski bermodalkan bujet

AMY (2015)

Sebuah tribute bagi kehidupan seorang tokoh tidak harus berbentuk glorifikasi, meski langkah tersebut akan mendatangkan respon positif dari penggemar atau kerabat sang tokoh. Asif Kapadia yang sebelumnya meraih kesuksesan lewat "Senna" tidak ingin memposisikan filmnya sebagai cinta buta pada Amy Winehouse atau bentuk pembelaan atas banyak berita miring mengenai kehidupan pribadi sang penyanyi.

MEN WHO SAVE THE WORLD / LELAKI HARAPAN DUNIA (2014)

Terdapat banyak cara untuk sebuah film menyampaikan kritik terhadap isu tertentu. "Men Who Save the World" atau yang mempunyai judul lokal "Lelaki Harapan Dunia" ini memakai pendekatan komedi satir yang dilontarkan dengan semangat "seenaknya sendiri". Menikmati film yang menjadi perwakilan Malaysia untuk ajang Oscar 2016 ini memang jangan terlalu serius, atau guyonannya bakal terasa rasis dan

ABOUT A WOMAN (2014)

"About a Woman" adalah penutup dari rangkaian trilogi tematik milik Teddy Soeriaatmadja. Seksuaitas, agama dan kemunafikan tetap menjadi benang merah yang menghubungkan film ini dengan "Lovely Man" dan "Something in the Way". Kali ini penonton giliran diajak mengamati kesepian seorang janda (sebut saja namanya "Ibu") berusia 65 tahun (Tutie Kirana) yang tinggal hanya bersama pembantunya.

AACH...AKU JATUH CINTA (2015): KEKACAUAN PUISI CINTA YANG MANIS

Gombal dan norak. Dua kata tersebut paling pantas menggambarkan kisah cinta Rumi (Chicco Jerikho) dan Yulia (Pevita Pearce). Tapi apakah itu artinya film ini buruk? Untuk menjawab pertanyaan menyoal baik atau buruk, ingat-ingat lagi masa di mana kita jatuh cinta. Pernahkah anda berlagak bak pujangga tersohor yang ahli merangkai puisi cinta? Pernahkah anda mengirim ratusan baris rayuan manis

COURT (2014)

Ada tiga hal yang menjadi pokok bahasan favorit saya dalam film; seksualitas, agama (bukan film religi) dan kebebasan berkarya/berpendapat. Jika sebuah film mampu mengeksekusi satu atau lebih tema di atas dengan baik, hampir bisa dipastikan menjadi tontonan favorit saya. "Court" yang memenangkan film terbaik pada program Horizons di "Venice Film Festival 2014" serta merupakan perwakilan India

DHEEPAN (2015)

Terkadang sebuah film dielu-elukan bukan semata-mata karena kualitasnya saja, tapi turut dipengaruhi oleh relevansi tema yang diangkat. "Dheepan" karya Jacques Audiard yang memenangkan Palme d'Or pada "Cannes Film Festival" tahun 2015 ini termasuk salah satunya. Kisahnya bicara tentang usaha Sivadhasan (Anthonythasan Jesuthasan), mantan anggota "Macan Tamil" yang berusaha memulai hidup baru

SOMETHING IN THE WAY (2013)

Karir seorang Teddy Soeriaatmadja sudah berubah. Dari sutradara yang banyak membuat film mainstream macam "Ruang", "Namaku Dick", hingga "Badai Pasti Berlalu", kini dia lebih banyak melahirkan film indie yang hanya ditayangkan terbatas dalam beberapa festival saja. Menonton karya terbaru Teddy Soeriaatmadja pun jadi pengalaman langka. Teddy pun nampak lebih bebas bereksplorasi dalam ceritanya

FLUTTER ECHOES AND NOTES CONCERNING NATURE (2015)

Saya menyukai slow cinema. Sajian arthouse lambat yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan kerap memberi kepuasan hasil dari kontemplasi mendalam sekaligus observasi mendetail. Untuk film Indonesia, "Another Trip to the Moon" karya Ismail Basbeth adalah contoh sempurna dan sampai saat ini masih menjadi film Indonesia favorit saya untuk tahun 2015. Tapi disaat suatu slow cinema gagal

KISAH CARLO - EPISODE 1: PILOT

Pada era modern seperti sekarang dimana segala bentuk informasi begitu mudahnya didapatkan, masih saja terdapat banyak kekeliruan dalam persepsi masyarakat umum mengenai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Alhasil pengaplikasian jargon "Jauhi penyakitnya bukan orangnya" pun masih tak berjalan baik. Masih banyak ODHA dijauhi pula dikucilkan karena dianggap berpotensi menularkan virus. Karena itu